| From Halal bi Halal 2008 |
Saturday, October 04, 2008
Warga PERMIAS HAWAII Halal bi Halal di Magic Island hari ini
Thursday, October 02, 2008
Suasana Lebaran di Honolulu, Hawaii
![]() |
| From Lebaran 2008 |
Wednesday, October 01, 2008
Akhir Ramadhan Ala Hawaii
![]() |
| From Ramadaniah 2008 Hawaiian Way |
Tuesday, September 30, 2008
Shalat Idul Fitri 1 Oktober 2008 di Manoa Park, Honolulu
Monday, September 29, 2008
Pemutaran Film Toet Nya' Dien di Honolulu
Friday, September 26, 2008
Mahasiswa Muslim Hawaii Ikut Buka Puasa dan Shalat Bersama di Masjid Hawaii
Sebahagian dari mahasiswa Indonesia yang sedang menjalankan ibadah puasa di Honolulu ikut serta dalam acara buka puasa dan shalat bersama hari ini (Jumat, 26 Oktober 08) bersama komunitas Muslim Hawaii. Konsumsi ringan dan makan malam biasanya disediakan oleh salah satu keluarga Muslim yang ingin memberi makan kepada orang-orang yang berpuasa. Jarak Mesjid Hawaii dari kampus UH sekitar 30 menit jalan kaki.Tuesday, September 23, 2008
Open Exhibition: “Aceh Visual Retrospective” di Hale Manoa
Mengawali pelaksanaan The 1st International Conference and Cultural Event (ICCE) of Aceh pada 21-22 Oktober 2008, exhibition dengan tema "Aceh Visual Retrospective" digelar di ruang lobby Hale Manoa, East West Center, UH, Honolulu, dari 20 September-19 Oktober 2008. Pameran ini menampilkan beberapa buku dan poster yang terkait dengan peristiwa Tsunami di Aceh. Saturday, September 20, 2008
Serah Terima Jabatan Pengurus Permias Hawaii Hari ini
Pedebatan tentang Film "The Black Road: On the Front Line of Aceh's War"
Sunday, August 24, 2008
Membludak, Perayaan HUT ke-63 Indonesia di Kapiolani Park
Perayaan dimulai dengan seremoni kecil, layaknya upacara bendera. Aslam Sa'ad yang juga ketua pantia membacakan teks Pancasila, sementara Teguh Santosa, ketua Permias Hawaii periode 2007-2008, membacakan teks proklamasi. Sementara lagu kebangsaan Indonesia Raya dipimpin Ari Palawi yang juga berperan sebagai pembawa acara.
Beberapa anggota masyarakat menitikkan air mata usai menyanyikan lagu Indonesia Raya.
Sejumlah permainan dilombakan dalam perayaan itu. Lompat karung untuk putra dan putri dewasa, juga lomba "sumpit sakti", sampai adu cepat membawa kelereng di atas sendok untuk kelompok anak-anak.
Seperti perayaan-perayaan 17 Agustus sebelumnya, perayaan di Kapiolani Park kali ini pun dimeriahkan dengan masakan khas Indonesia. Menu utama yang disajikan kali ini adalah lontong sayur. Disamping itu, anggota masyarakat juga membawa makanan lain, mulai dari ala Indonesia, sampai ala Barat dan ala kos-kosan.
Sampai jumpa di perayaan HUT ke-64 Republik Indonesia tahun depan. Merdeka!
Thursday, April 24, 2008
Ke Hawaii, Theo Cs Ajarkan Demokrasi Indonesia
SEPULUH tahun lalu rezim militer yang berkuasa di Indonesia lebih dari tiga dasawarsa tumbang. Soeharto yang menjadi puncak kekuasaan Orde Baru mengundurkan diri setelah dihantam gelombang people power yang dimotori mahasiswa dan kelompok pemuda.
Foto: Dari kiri ke kanan Abdillah Toha, Theo Sambuaga, Teguh, Ujiati Tosari, Antarini Malik, dan Tosari Wijaya.
Kini, banyak negara yang merasa perlu mempelajari cara Indonesia mengubah otoritarianisme menjadi demokrasi. Termasuk Amerika Serikat, negeri yang di satu sisi dikenal sebagai kampiun demokrasi.
Itu sebabnya, hari ini waktu Hawaii (22/4) atau Rabu waktu Indonesia (23/4), sebanyak enam anggota Komisi I DPR-RI tiba di Honolulu, Hawaii. Diundang House Democracy Assistance Commission, sebuah lembaga di bawah House of Representative atau DPR Amerika Serikat, mereka diharap dapat membagi lika-liku pengalaman Indonesia menegakkan demokrasi.
Selain Ketua Komisi I Theo Sambuaga, delegasi DPR-RI ini juga diperkuat Marzuki Darussman dan Antarini Malik (Golkar), Abdillah Toha dan Djoko Susilo (PAN), serta Tosari Wijaya (PPP).
Sebelum memulai program resmi, rombongan Komisi I DPR-RI menyempatkan diri mengunjungi Pali Highway. Ini adalah sebuah dataran tinggi yang begitu indah namun menyimpan cerita seram mengenai penaklukan kepualauan Hawaii di bawah kekuasaan Raja Kamehameha.
Rombongan Komisi I DPR-RI juga mengunjungi patung Kamehameha di seberang Istana Iolani, pusat pemerintahan Hawaii sebelum kerajaan itu ditumbangkan dan diduduki Amerika Serikat tahun 1893. Seratus tahun setelah pendudukan Amerika Serikat, Presiden Bill Clinton menyampaikan permintaan maaf kepada rakyat Hawaii dan keluarga Kerajaan Hawaii. Namun pemerintah Amerika menolak mengembalikan kedaulatan Kerajaan Hawaii.
Program workshop demokrasi yang diikuti anggota Komisi I DPR-RI ini akan berlanjut hingga ke Washington D.C. Di ibukota Amerika Serikat itu mereka akan bertemu dengan sejumlah anggota DPR dan Senat Amerika Serikat.
***
Namun sebenarnya banyak pihak yang meragukan keberhasilan jalan demokrasi ala Indonesia itu.
Ketua Umum Komite Bangkit Indonesia Dr. Rizal Ramli, misalnya, mengatakan reformasi yang digulirkan kaum muda sepuluh tahun lalu justru berantakan karena dibajak oleh kelompok pro-satus quo yang lebih senang menghamba pada kekuatan ekonomi asing, semisal International Monetary Fund (IMF) dan Bank Dunia.
Penjajahan gaya baru yang dipraktikkan kelompok pembajak reformasi ini telah membonsai kekuatan politik pro-rakyat, dan sebaliknya membesarkan kelompok politik yang membiarkan bangsa ini terjerumus menjadi bangsa kuli.
”Reformasi yang dikhianati ini melahirkan oligarki baru,” kata Rizal beberapa hari lalu saat memberikan keterangan mengenai rencana ”Konsolidasi Nasional Pemuda, Mahasiswa dan Aktivitis Pergerakan” yang akan diselenggarakan pada 24 April, di Jakarta.
”Berita di media massa mengenai rakyat miskin yang meninggal akibat kelaparan atau tidak mampu berobat, hanyalah fenomena permukaan gunung es. Kita tahu persis di lapangan jumlahnya bisa jauh lebih besar. Sayangnya pemerintah seperti tak menganggap kemiskinan sebagai masalah serius yang harus segera ditangani,” kata Rizal.
Ironisnya pemiskinan ini terjadi karena proses pembuatan UU di parlemen telah dicemari kepentingan pendukung neoliberal yang dengan sukarela memberikan kekayaan alam Indonesia kepada negara asing. Dia menyebutkan beberapa UU yang dicemari kepentingan asing antara lain adalah UU 25/2007 tentang Penanaman Modal, UU 22/2001 tentang Migas, UU 13/2003 tentang Perburuhan, dan UU Privatisasi Sumber Daya Air.
Di sisi lain, mantan Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan ini mengakui bahwa upaya mengembalikan gerakan reformasi kepada relnya pun tidak mudah.
Sejak reformasi bergulir hingga saat ini, sambungnya, yang terjadi adalah fragmentasi gerakan pro-rakyat. Fragmentasi ini terjadi karena berbagai kelompok pro-rakyat tidak segera menetapkan paham neoliberalisme yang dianut elit politik sebagai pengganti rezim militeristik Soeharto. Padahal, sambung dia lagi, inilah Orde Baru gaya baru.
”Perlawanan spontan akar-rumput atas neoliberalisme muncul hampir di semua daerah. Setiap hari dapat kita lihat bagaimana supir, PKL, warga miskin, petani, buruh, pedagang pasar, dan sebagainya turun ke jalan menolak kebijakan neoliberal yang memiskinkan rakyat,” ujar dia lagi.
Nah, pelajaran apa yang dapat dipetik dari “demokrasi” Indonesia pasca-reformasi? [Teguh Santosa]
Saturday, April 05, 2008
Indonesian Night 2008
Berikut poster dan program kegiatan.
Mahasiswa Indonesia Main Rebana di Sekolah Obama
Punahou adalah salah satu sekolah terkemuka di Honolulu, Hawaii. Setelah mengikuti pendidikan di SD Menteng 01, Jakarta Pusat, Senator Illinois kelahiran Hawaii, Barack Obama, menuntut ilmu dari tahun 1971 hingga lulus tahun 1979 di sekolah ini.
Lulus dari Punahou, Obama yang kini sedang bertarung dengan Senator New York Hillary Clinton untuk memperebutkan tiket Partai Demokrat ke pemilihan presiden Amerika Serikat melanjutkan pendidikan ke beberapa perguruan tinggi di mainland, mulai dari Occidental College di Los Angeles, Columbia University di New York, sampai Harvard University di Massachusetts.
Nah, di sekolah Barack Obama itulah, di Punahou, hari Sabtu waktu Hawaii (23/2) anggota Perhimpunan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) cabang Hawaii mempertunjukan kesenian nasyid dan rebana, juga tarian Ratoh Doek yang oleh sebagian orang dikenal dengan nama tarian Saman dari Aceh.
Pertunjukan yang digelar di aula Wo International Center itu merupakan bagian dari komitment Punahou untuk memperkenalkan berbagai kebudayaan yang hidup di banyak tempat di banyak negara, sekaligus untuk mendorong agar murid-murid di sekolah itu mempunyai gambaran mengenai upaya membangun dunia internasional yang menerima keberagaman.
Selain rebana dan tarian Ratoeh Doek dari Indonesia, pertunjukan yang digelar sebagai bagian dari Festival Islam Punahou ini juga menampilkan tarian Malong dari komunitas muslim di Filipina, wayang kulit kreatif, dan pembacaan ayat suci Al Quran.
Menurut pelatih tim kesenian Permias Hawaii, Ari Palawi, ini adalah kali kesekian mahasiswa Indonesia diundang ke Festival Islam Punahou ini.
“Kegiatan seperti ini punya arti penting bagi Hawaii, khususnya murid-murid di Punahou, juga bagi mahasiswa Indonesia,” katanya.
Tulisan ini juga dimuat di Rakyat Merdeka.
Wednesday, January 30, 2008
Pemerintah Pertimbangkan Bangun Indonesian Cultural Center di Hawaii
Menurut Wapres Jusuf Kalla, untuk membangun pusat kebudayaan Indonesia itu, pemerintah mesti melakukan pengkajian yang mendalam mengenai berbagai aspek kebijakan luar negeri Indonesia, mulai dari aspek ekonomi, sosial juga politik. Selain merupakan titik pertemuan berbagai bangsa dari berbagai negara dengan latar budaya yang berbeda di pusat-pusat wisatanya, Hawaii juga dikenal sebagai salah satu center of excellent yang memainkan peranan penting dalam pengembangan sikap saling memahami antara dunia timur dan barat.
Pemerintah Amerika Serikat sendiri setidaknya sejak tahun 1960 telah menetapkan Hawaii sebagai titik penting dalam pergaulan internasional mereka. Tahun 1960 pemerintah Hawaii mendirikan East West Center yang didesain khusus untuk menjembatani Amerika Serikat dengan kawasan Asia dan Pasifik.
Sebelum pusat kebudayaan Indonesia itu berdiri, Wapres Jusuf Kalla berharap agar mahasiswa dan warga negara Indonesia di Hawaii tetap memainkan peranan sebagai duta bangsa. “Jalinlah hubungan sebaik mungkin dengan komunitas internasional di Hawaii. Hanya dengan demikian Indonesia dapat dikenal sebagai bangsa yang beradab dan maju,” kata Wapres.
Ketua Permias Hawaii Teguh Santosa mengatakan Permias Hawaii terinspirasi oleh langkah yang telah dimulai pemerintahan Hawaii dalam menginisiasi kerjasama antara pemerintah Indonesia dan pemerintah negara bagian Hawaii di bidang mitigasi bencana alam. Bulan Juni 2007 Gubernur Hawaii Linda Lingle dan Menteri Pertahanan RI Juwono Sudarsono telah menandatangani MoU mengenai pelatihan anggota TNI sebagai pendukung otoritas sipil dalam menghadapi bencana alam.
Menurut Teguh, kerjasama tersebut mungkin dapat dikembangkan dalam bentuk lain. Misalnya menjadikan Pulau Nias dan Hawaii sebagai sister island. “Ini mengingat bahwa profil Nias dan Hawaii memiliki banyak kesamaan. Sama-sama pulau terluar, dan sama-sama rentan terhadap bencana alam,” demikian Teguh.
Mahasiswa ilmu politik Universitas Hawaii ini mengatakan, kemungkinan menjadikan Nias dan Hawaii sebagai sister islands telah didiskusikan dengan kantor Perserikatan Bangsa Bangsa di Nias. Dan kantor PBB di Nias sangat yakin hal itu mungkin dilakukan. Nias, dan pulau-pulau terluar Indonesia di pantai barat Sumatera lainnya, dapat belajar berbagai hal dari kepulauan Hawaii, mulai dari pembangunan early warning system yang konvergen sampai pengembangan pusat pariwisata.
Pada bagian lain, Wapres Jusuf Kalla juga menyampaikan pentingnya mengkonservasi berbagai unsur budaya lokal di tanah air, termasuk bahasa daerah. “Di masa mendatang bahasa daerah akan kehilangan peran dalam pergaulan nasional. Untuk itu memang penting bagi kita mengkonservasinya, agar jangan sampai hilang sama sekali,” ujar Wapres lagi.
Adapun Teguh menyampaikan bahwa salah seorang mahasiswa Indonesia asal Papua, Andreas Jefri Deda yang menyelesaikan studinya bulan Desember lalu telah menyusun kamus kecil bahasa Sentani Timur.
Pada bagian akhir pertemuan itu, Wapres Jusuf Kalla juga menyampaikan salam kepada semua mahasiswa dan warga negara Indonesia di Hawaii. [Teguh Santosa, dikutip dari www.myrmnews.com]
North Shore
Kita berlima, Mas Ali, Teh Neneng, Mas Bambang, aku dan suamiku berangkat pukul 10 pagi. Kita udah siap2 GPRS, buku peta, plus map dari google. Maklum pengelaman pertama ke North Shore by car hehe. Tempat pertama yang kita berhentiin adalah DOLE. Nih kayak perkebunan pineapple. Di tempat itu ada storenya gede, yang menjual semua makanan yang terbuat dari pineapple. Ada lulur, coklat, ice cream, wes lengkap deh. Tempat ini memproduksi banyak makanan dari pineapple dan kualitasnya sudah export. Di dalam DOLE ini tersedia kereta yang bisa nganterin pengunjung muter-muter perkebunan. Jadi hanya dari pineapple bisa jadi wisata, dan tetap berproduksi. Jadi mikir, kira-kira Banyuwangi yang terkenal kota pisang, bisa tidak ya bikin kayak gini??
Perjalanan bernjut ke Haleiwa. Tujuan pokok ke tempat ini adalah cari makan. Di daerah North Shore ini makanan favorite adalah shrimp. Di sepanjang jalan berjejer mobil-mobil box yang menjual Shrimp. Akhirnya kita makan di Giovani, kata seorang teman sih, tempat ini lumayan enak. Ehhhhhh Shrimpnya mantap, gede-gede banget. Makannya pakai caos pedas. Cuman kayaknya rasanya enggak nendang.
Terus tancap gas, ngiteri pinggiran pantai, melewati Turtle Bay, menikmati Sunset Beach. Wah benar-benar nikmat Tuhan yang tiada tara bisa menikmati pemandangan yang luar biasa. Di sisi kira terhampar lautan yang warna airnya bermacam-maca, sebelah kanan gunung hijau (musim spring) menjulang menawarkan kesejukan. Kita berhenti di Hauula beach. Masyaalah nikmat sekali bisa sholat dipinggir pantai dengan hembusan angin.
Eh, sudah pada lihat film Jurasic Park yang heboh itukan? Nah di deretan gunung ini nih pengambilan gambarnya.
Kita juga berhenti di parking park yang langsung menghadap ke Chinnese men’s hat. Nih bukit yang berada di tengah-tengah laut. Bentuknya kayak caping petani, makanya dinamakan Chinnese men’s hat. Wah bias gender ya,masak buat men aja hehehe
Salah satu tempat amazing yakni ‘Valley of The Temple Memorial Park’. Nih temple berada di balik bukit, dan di tengah-tengah perkuburan. Tapi emang US, apa-apa bisa jadi tempat wisata. KUburan aja juga tertata cantik, dan menarik untuk dikunjungi. Disamping kiri kanan Temple banyak banget pohon kayu putih, jadi baunya enak banget.
Hawaii emang PARADISE. [Ninik]
Sunday, December 09, 2007
Perayaan Natal Bersama 2007
Selain itu, Gereja Journey of Faith Fellowship (JoFF) cabang Honolulu juga mengundang Bapak/Ibu/Sdr/i Kristiani untuk beribadah bersama setiap hari Minggu, jam 9.30 pagi di Aston Waikiki Sunset Hotel, 229 Paoakalani Ave, 6 th floor, Honolulu-Hawaii 96815.
Friday, October 26, 2007
My Second Idul Fitri
YA, ini my second Idul fitri di Hawaii. Tentu sudah lebih kuat untuk menghadapi semuanya. Nangis sih tetep, cuman enggak seheboh tahun lalu hehhe.
Hari H-1
Pada hari Kamis malam Jumat, Indonesian Muslim Students kumpul di lounge lantai 6, rencananya kita either mau teraweh or takbiran. Tapi hingga jam 8 malam belum ada kabar apa-apa dari Masjid. Ini artinya lebaran di Hawaii tidak hari Jumat. Sebenernya beberapa teman mau melaksanakan teraweh, cuman ada sebagian teman yang sudah menetapkan hati lebarannya Jumat, jadi enggak mau teraweh. AKhirnya diambil jalan tengah yakni mengganti teraweh/takbiran dengan diskusi bersama. Temanya sih simple, bagaimana kesan Ramadhan dalam diri kita. Cuman tema tersebut akhirnya melebar, dan kita saling terbuka dan diskusi banyak hal. Ini untungnya diskusi di Hawaii karena satu persoalan saja bisa ditanggapi dari berbagai segi sesuai disiplin ilmu masing-masing.
Hari Jumatnya, aku sudah mulai telfon ke rumah. Karena hari Jumat di Hawaii berarti Sabtu di Indonesia. Jam 11 siang atau jam 4 subuh waktu indonesia bagian barat, Babah udah telfon, udah nangis-nangisan. Agak siangan dikit aku telfon Ibu dan abah…wesss nangis lagi. Mulai siang ampe malam aku nyoba telfon ke rumah saudara-saudar baik dari keluargaku maupun dari keluarga Babah di Madura. Cuman ya ampunnnnnn sulit banget telfon ke Indonesia. Berjam-jam aku coba telfon yang bisa cuman di dua rumah pakdeku. Ke mertua enggak bisa-bisa.
Hari H
Malam Takbiran enggak ada yang istimewa, aku malah nonton film di reading room. Malam itu aku sulit banget tidur, karena kamarku di lantai 3 dan dibawah kamarku ada public room yang dipakai beberapa teman untuk acara birthday party. Uh sebel deh, lawong aturannya fasiliats public tidak bisa dipakai melebihi jam 11 malam, tapi ampe jam 12 tetep aja ramai. Akhirnya aku coba telfon ke staff, cuman mungkin enggak mempan omongannya staff, buktinya partynya tetep jalan ampe jam 2 dini hari, mampus deh.
Paginya sekitar jam 7 dengan kondisi yang nguantuk karena kurang tidur, aku dan teman-teman berangkat ke tempat sholat IED. Seperti halnya tahun lalu, tempat sholat kali ini dilaksanakan di Magic Island. Ini tempat public di pinggir pantai dan tempatnya terbuka, hanya ada tenda. Tentu sulit dibayangkan bagi muslim Indonesia sholat dipinggir pantai yang disampingnya buanyakkkkk orang yang sedang berjemur, berenang dan bahkan jalan-jalan dengan dog hehehhe. Cuman memang itulah tempat yang paling memungkinkan untuk sholat bersama. Masjid terlalu sempit untuk menampung semua muslim.
Kebetulan aku sedang tidak sholat, jadilah aku menjadi baby sitter dadakan, jagain beberapa baby teman-teman Indonesia yang sedang sholat. Sehabis sholat IED, semua jama’ah sarapan dengan roti dan jus yang sudah disiapkan oleh pihak masjid.
Memang muslim di sini sangat beragam. Ada seorang muslim yang gayanya ngerap habis, dengan berbagai pernak pernik rantai di baju dan celananya plus kaos lengan pendeknya. Malah ada dua muslimah China yang hanya pakai kaos pendek, rambut diurai dan saputangan kecil menutupi kepalanya, tapi tetep aja mereka sholat hehhehe.
Saat semua sholat, aku duduk dideretan perempuan-perempuan yang sedang menstruasi sambil jagain bayi-bayi kecil lucu. Kebanyakan dari perempuan-perempuan tersebut adalah dari Timur Tengah. Jadi setiap ada seseorang yang baru datang mereka akan mengucapkan “IED MUBARAK” dan saling mencium pipi tiga kali. Yang menarik, sesama perempuan timteng ini setelah say hallo mereka akan saling memuji pakaian yang mereka pakai. AKu sempat geli juga, ketika seorang perempuan yang ampe berputar untuk memperlihatkan bagaimana bagusnya baju yang dia pakai hehhehe. Setahuku di Indonesia (terutama di kalangan orang yang sudah dewasa) enggak ada tuh yang heboh dengan baju. Kok kayaknya tradisi itu seperti anak kecil aja, yang masih mengagumi baju hehhehe.
Setelah saling mengucapkan permintaan maaf, aku dan teman-temen Indonesia lainnya kembali pulang ke dormitory kami, lagi-lagi dengan naik bus *kacian deh kami.* Jam 1 siang sesuai dengan kesepakatan yang kami buat, kami *Indonesian muslim students* kumpul bareng untuk lunch dengan makanan khas lebaran. Ada yang buat lontong, sayur lodeh, ayam goreng, martabak, aku buat telor balado. Hidangan siang itu tambah siiiip dengan es kopyor plus bubur mutiara made in Anshari. Ya lumayanlah menu siang itu sedikit mengobati ke-nelongso-an lebaran jauh dari keluarga. Acara lunch dilanjutin nyanyi-nyanyi dengan iringan petikan gitar dari Ari.
Overall nothing special di lebaran ini, cuman beruntungnya lebaran kali ini jatuh pada weekend jadi enggak perlu masuk kelas lagi setalah sholat Idul Fitri seperti yang terjadi tahun lalu.
Wednesday, October 10, 2007
Dubes RI: Mainkan Total Diplomasi
Semua warga negara memainkan peranan yang sama penting dalam konsep total diplomasi ini. Wajah negara, sebut mantan Sekretaris Jenderal Departemen Luar Negeri yang juga pernah bertugas sebagai Dubes RI untuk Australia dan Vanuatu ini, tidak lagi tergantung pada kemampuan para diplomat karier di forum-forum diplomasi global. Warga Indonesia baik yang berada di dalam dan luar negeri juga turut memberikan sumbangan pada gambaran atau citra bangsa Indonesia di arena internasional.
Dubes Parnohadingrat dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi bangsa-bangsa lain terhadap Indonesia. Pekerjaan rumah memang masih masih banyak, katanya. Jumlah penduduk miskin dan pengangguran masih terbilang tinggi. Namun, di forum-forum internasional, keparcayaan masyarakat dunia kepada Indonesia sudah mulai kembali. Indonesia tidak hanya dipandang sebagai negara yang memiliki komitmen tinggi terhadap upaya pemberantasan korupsi dan perlindungan hak asasi manusia, dalam hal menjaga perdamaian dunia pun Indonesia kembali diperhitungkan.
Saat ini, Dubes Parnohadingrat menambahkan, ada ribuan anggota TNI yang dipercaya masyarakat internasional menjaga perdamaian di Lebanon. Dan tak lama lagi, giliran anggota Polri yang akan dikirim untuk menjaga perdamaian di Darfur.
Sementara itu, dalam sambutan pengantarnya, Ketua Persatuan Mahasiswa Indonesia di Amerika Serikat (Permias) Hawaii Teguh Santosa mengatakan, mungkin sudah saatnya pemerintah Indonesia membangun semacam Indonesia Center di Hawaii, mengingat fungsi Hawaii di mata masyarakat dunia kini sudah berubah dari sekadar kota wisata menjadi kota pendidikan bertaraf internasional dan tempat pertemuan begitu banyak orang dari berbagai bangsa.
Di University of Hawaii sendiri, sambung Teguh, Asia Tenggara menjadi salah satu tema yang mendapat perhatian besar. Pembahasan mengenai perkembangan Asia, tampaknya tidak dapat dilepaskan dari pembahasan mengenai Indonesia. Beberapa mata kuliah di jurusan studi Asia Tenggara memperlihatkan hal itu.
Pembentukan Indonesia Center, sambung Teguh, juga penting dilakukan mengingat pihak pemerintah Negara Bagian Hawaii telah menginisasi kerjasama dengan pemerintah Indonesia bulan Juni lalu. Sejauh ini kerjasama yang disepakati memang baru dalam hal pendidikan dan pelatihan bagi anggota TNI sebagai pendukung otoritas sipil dalam rekonstruksi dan rehabilitasi bencana alam. Tetapi, Teguh menambahkan, ketika berbicara di depan wartawan Indonesia bulan Juni lalu, Gubernur Hawaii Linda Lingle juga mengatakan bahwa pihaknya membuka diri untuk berbagai bentuk kerjasama lain di masa depan.
Foto-foto acara pertemuan Dubes RI dan masyarakat Indonesia dapat disaksikan di Gallery.
Friday, September 21, 2007
Malam Bersama Barquentine Paling Tangguh di Dunia
DARI luar pagar Nimitz Gate, pintu gerbang utama Pangkalan Angkatan Laut Amerika Serikat di Pearl Harbor, Hawaii, saya bisa menyaksikan Yudhistira, Arjuna dan Bima berdiri tegak menantang langit yang semakin gelap. Ketiganya seakan mendongakkan kepala, menatap tajam ke arah bintang-bintang dan sayatan bulan yang mulai memperlihatkan diri di ujung senja. Hari itu, Selasa, 18 September 2007.
Tubuh Dewaruci, penyangga tiga dari lima pahlawan Pandawa, memang tak terlalu besar dengan panjang 58,3 meter dan lebar lambung 9,5 meter. Arjuna yang berdiri di tengah menggenapi 35,87 meter ketinggian Dewaruci. Tetapi ia adalah petarung paling tangguh di kelasnya. Dua saudaranya yang hidup terpisah sejak akhir Perang Dunia Kedua sudah lama pensiun mengarungi samudera. Kabarnya satu telah ditenggelamkan, dan satu lainnya dijadikan sasaran tembak dalam latihan perang.
Ke-16 layar Dewaruci yang bila dibentangkan melebar 1.091 meter persegi telah tergulung dengan rapi. Lampu-lampu kecil yang dikaitkan pada tali yang menghubungkan ujung kapal, ketiga pahlawan Pandawa hingga buritan mulai dinyalakan. Dari kejauhan beberapa Taruna Akademi Angkatan Laut (AAL) yang menyertai perjalanan kapal latih TNI AL ini dalam Pelayaran Muhibah Kartika Jala Krida (KJK) 2007 sedang menata meja di mulut tangga yang menghubungkan dermaga dan Dewaruci.
Saya dan beberapa mahasiwa Indonesia serta anggota masyarakat Indonesia masih menunggu di pelataran parkir di luar Pass and ID Office Naval Base. Tiga orang sersan TNI AL yang menemani kami sedari tadi terus berkordinasi dengan pihak Pearl Harbor agar kami yang diundang bisa memasuki areal Naval Base dan bergabung dengan kemeriahan yang akan berlangsung malam itu di Dewaruci.
Ketika waktu berbuka puasa tiba, kami masing-masing mengeluarkan bekal. Seorang teman menyodorkan biskuit, saya membawa apel, dan salah seorang sersan mengeluarkan minuman kaleng dari tas lorengnya. Pembicaraan kami berputar tentang pengalaman mereka di Hawaii sejak merapat lima hari sebelumnya. Salah seorang dari mereka bercerita tentang perjalanannya ke Aloha Tower. Yang lainnya bercerita tentang istri dan harapannya agar segera punya anak.
Selesai berbuka puasa, sebuah van merah tiba. Sang supir, seorang prajurit AL Amerika Serikat berkulit hitam, berseragam putih-putih dan berkacamata, mempersilakan kami naik ke van dan melanjutkan perjalanan yang tertunda ke Dewaruci yang sudah di depan mata. Sepanjang perjalanan menuju Dewaruci, si prajurit AL Amerika Serikat ini terus memainkan hand phone sambil menyetir van.
Di dermaga, kami disambut oleh beberapa taruna AAL. Sebagian dari mereka mengenakan seragam cokelat-cokelat, dan lainnya mengenakan seragam biru-putih. Mereka mempersilakan kami menuliskan nama masing-masing di buku tamu sambil bertanya apa aktifitas kami di Hawaii, sementara kami bertanya apa yang mereka rasakan selama dalam perjalanan membelah samudera.
"Beberapa hari lalu, dari Los Angeles, sempat ada ombak besar. Kami pada mabok," cerita seorang taruna AAL.
"Oh, masih bisa mabok juga?" tanya seorang teman saya dijawab tawa para taruna.
Saya dan beberapa kawan tak buru-buru menyeberang ke atas geladak. Kami memilih untuk memuaskan mata lebih dahulu memandang Dewaruci dari dermaga, mengamati tonggak di ujung kapal, dan patung Bima yang seakan menjadi penuntun Dewaruci ketika membelah samudera, lalu bergerak mengamati buritan kapal, dan memandang puncak ketiga pahlawan Pandawa. Sebuah lampu sorot berwatt tinggi menyala nyalang, membuat lingkungan di sekitar Dewaruci menjadi cukup terang. Di atas sana, sebuah bendera bajak laut, tengkorak dan tulang yang bersilang putih dengan dasar hitam pekat, setengah berkibar ditiup angin Pearl Harbor yang sedang tak begitu kencang.
Mengibarkan bendera bajak laut menjadi semacam tradisi di kalangan pelaut militer dari negara manapun. Ada harapan, agar spirit para bajak laut yang tak kenal takut menghadapi amukan ombak dan badai samudera sehebat apapun menulari mereka.
Untuk barquentine atau kapal layar bertiang tinggi sekelasnya, Dewaruci memang terbilang cukup tua. Bisa jadi, Dewaruci yang punya bobot mati 847 ton dan berkecepatan maksimal 10,5 knot dengan mesin dan 9 knot dengan layar ini adalah barquentine paling tua yang masih berani menantang keganasan samudera.
Tubuhnya mulai dirakit pada tahun 1932 di galangan H.C. Stolcken Sohn, Hamburg, Jerman. Perang Dunia Kedua yang berkecamuk beberapa tahun kemudian, meluluhlantakkan Eropa, Asia dan belahan utara Afrika, memaksa Jerman menghentikan pembangunan janin Dewaruci.
Usai perang, pemerintah Indonesia memesan kapal setengah jadi itu pada pemerintah Jerman. Pembangunannya kembali dimulai tahun 1952, dan selesai setahun kemudian. Di bulan Januari 1953, kapal baru stok lama ini diluncurkan dengan menggunakan bendera Indonesia. Pelayaran dari Hamburg menuju Surabaya dipimpin oleh seorang kapten berwarganegara Jerman, Rosenoow, yang kemudian mengubah kewarganegaraannya menjadi WNI.
Setelah beberapa bulan dipermak di Surabaya, diberi tambahan ornamental yang memperlihatkan ciri keindonesiaan, seperti menutup pangkal tiang dan ruang kemudi dengan berbagai ukiran Jepara dan Papua, di bulan Oktober 1953 Dewaruci resmi bergabung dengan TNI Angkatan Laut sebagai kapal latih yang juga bertugas menjalankan misi persahabatan ke berbagai negara. Nama Dewaruci, simbol kebenaran dan keberanian, pun disematkan di pundaknya.
Sejak bergabung dengan TNI AL, sudah puluhan kali Dewaruci mengarungi samudera luas. Muhibah KJK 2007 ini yang dimulai bulan Mei lalu adalah perjalan ke-36 Dewaruci. Kali ini mereka mengikuti ASTA Tall Ship Challenge 2007 bulan Juni lalu di New Port, Rhode Island, di pantai timur Amerika Serikat. Dalam Muhibah ini, kapal yang dipimpin oleh Letkol Laut (P) Soetarmono itu menyinggahi 17 kota di empat negara dengan jarak tempuh sejauh 29.992 mil laut dalam 241 hari.
Dari Surabaya tanggal 10 Maret lalu, Dewaruci bergerak menuju Jayapura, lalu singgah di pelabuhan Kwajelin, Republik Marshall sebelum melanjutkan perjalanan membelah Samudera Pasifik yang hening. Mereka singgah lebih dahulu di Honolulu, sebelum melanjutkan perjalanan ke pesisir barat benua Amerika. Pelabuhan pertama yang disinggahi di mainland Amerika Serikat adalah San Diego. Dari sana Dewaruci berbelok ke selatan menuju pelabuhan Manzanillo di Meksiko, dan memasuki Terusan Panama
Di ujung timur Terusan Panama, Dewaruci kembali berbelok ke utara menuju Miami, dan berturut-turut menyinggahi New Port, Philadelpia, Norfolk, Charleston. Dalam perjalan pulang mereka balik kanan ke arah selatan menyinggahi Florida, lalu pelabuhan Colon milik Panama, kembali memasuki Terusan Panama, dan singgah di pelabuhan Acapulco di Meksiko. Dari sana, Dewaruci bergerak menuju Los Angeles, pelabuhan terakhir Amerika Serikat di mainland yang mereka singgahi dalam Muhibah KJK 2007 ini.
Dari Los Angeles, Dewaruci kembali menuju Honolulu, sebelum melanjutkan perjalanan pulang melewati Kwajelin, Sorong, dan Kendari. Dewaruci diharap tiba kembali di Surabaya bulan November nanti.
Mengenakan seragam putih-putih, Letkol Soetarmono menyambut kami dengan senyum mengembang. Lehernya telah dikalungi lei dari semacam biji-bijian putih bening. Soetarmono terbilang pelaut unggul di kelasnya. Ia pernah memimpin pelayaran muhibah ke 19 negara Asia, Afrika dan Eropa di tahun 2005, dilanjutkan dengan kunjungan ke sembilan negara Asia di tahun 2006. Tahun depan, bila tak ada aral melintang, ia akan kembali memimpin pelayaran Dewaruci ke Eropa.
Geladak Dewaruci yang ditutupi tenda putih dan diterangi lampu beribu watt itu pun mulai dipenuhi para undangan. Cemilan dan buah dijejer di sebelah kanan pintu masuk. Agak ke belakang sedikit ada nasi goreng dan baso. Lebih ke belakang lagi, mendekati ruang kemudi di buritan, disediakan minuman, mulai dari air mineral, soft drink sampai bir dan anggur merah.
Tamu-tamu mulai berdatangan. Termasuk Komandan Naval Surface Group Middle Pacific, Rear Adm. Timothy Alexander. Hampir semua perwira AL Amerika Serikat yang datang membawa pasangan mereka. Beberapa malah membawa anak-anak mereka.
Geladak telah disulap menjadi aula pertemuan yang meriah. Bendera Indonesia dan Amerika Serikat digantungkan berjejer sebagai latar panggung. Seorang pemain organ dan penggebuk drum, seorang basis dan seorang gitaris sudah siap di tempat masing-masing.
Setelah Tim Alexander mengucapkan selamat datang, dibalas ucapan terima kasih dari Soetarmono, acara dilanjutkan dengan pertunjukkan beberapa tarian tradisional yang dibawakan taruna AAL. Tarian pertama dari Papua, disusul Serampang 12.
Lalu, atraksi gendang dari Jawa Barat dan sebuah tarian duduk dari Sumatera. Setelah Reog Ponorogo yang digelar di atas dermaga, acara malam itu ditutup dengan Poco-poco yang diiringi tembang lawas made in Amerika. Saya tak paham tarian Poco-poco, dan hanya menyaksikannya dari kejauhan sambil ngobrol dengan beberapa perwira pertama Dewaruci. Tapi menurut teman yang melibatkan diri pada tarian massal yang populer beberapa tahun terakhir ini, mereka menarikan sepuluh gerakan.
Seorang perwira senior membawa saya ke ruang tamu kapal. Kami menuruni tangga di bagian belakang ruang kemudi yang dinding-dindingnya dipenuhi berbagai plakat dari berbagai negara. Ruang tamu itu cukup rapi. Kursi-kursi ditempatkan berjejer di sebelah lemari hias setinggi pinggang. Berbagai plakat, miniatur kapal layar dan piala diletakkan di atas lemari itu. Juga album berisi foto-foto perjalanan Dewaruci.
Sang perwira senior ini hendak memperlihatkan kepada saya foto-foto shooting fim Anna and the King yang dibintangi Jodi Foster dan Chow Yun-Fat tahun 1999 lalu. Kapal Dewaruci dan awaknya juga dilibatkan dalam film itu. Tetapi setelah mencari kemana-mana dia tak juga menemukan foto-foto itu.
Dari ruang tamu, saya dan seorang teman kembali ngobrol dengan beberapa perwira tentang banyak hal yang dicampurbaurkan. Mulai dari perjalanan mereka yang luar biasa, riwayat KRI Dewaruci, juga konsep laut Nusantara. Kami pun sempat mendiskusikan pertanyaan apakah lebih bagus membangun museum atau membangun mall, bagaimana menciptakan ruang publik, juga cara terhormat menjalin hubungan luar negeri dengan beberapa negara sahabat.
Pembicaran semakin melebar, ketika kami tersadar bahwa kebanyakan tamu sudah meninggalkan Dewaruci. Karena tak mau ketinggalan van merah yang telah menunggu saya pun pamit meninggalkan Dewaruci dan tiga pahlawan Pandawa yang terus tegak menatap malam.
Saturday, September 15, 2007
Selamat Datang Ken
Semoga Ken tumbuh menjadi anak yang sholeh, berbakti pada kedua orangtua, dan selalu diberi kesehatan. Amiin.

